Lelah. Dalam pekan ini aku akan melakukan sesuatu yang makin susah untuk aku bayangkan, dan masih terasa seperti mimpi. Namun, kalau pun mimpi aku lebih memilih untuk cepat terbangun. Tidak pernah aku mengira-ngira sebelumnya bahwa waktu ini akan begitu cepat datang di hadapanku. Pernikahan. Inilah hal yang membuatku pusing tujuh keliling.
Susah payah sudah selama empat bulan ini aku menyiapkan segala sesuatunya tentunya dengan bantuan banyak pihak, dari orang tua, calon mertua, saudara-saudara, teman-teman dan tentunya kekasihku yang akan menjadi suamiku dalam saat segera ini. Persiapan tempat, undangan, catering, gaun pengantin, serta berbasa-basi dengan calon mertua, dan segala macam tetek bengek lainnya membuat tubuhku sengsara sampai-sampai ingin rasanya berbaring merebahkan tubuhku pada kasur yang empuk dalam waktu yang begitu lama. Belum lagi berbagai macam perawatan tubuh terjadwal akhir-akhir ini aku lakoni yang katanya akan sangat membantu dalam suksesnya malam pertama yang ditunggu-tunggu, dan akan membuat suami terkesan.
Namaku Tiara, aku baru saja lulus dari hampir lima tahun aku berkuliah. Belum sempat aku mencicipi dunia kerja aku sudah ditodongi desakan menikah oleh kekasihku Bimo yang umurnya tujuh tahun di atasku dan sudah mapan dalam keuangannya. Aku pun mengiyakan niat baiknya mengingat umurnya yang sudah menginjak kepala tiga, serta keadaan orang tuanya, dan terlebih lagi sudah cukup lama aku menjalin hubungan asmara dengannya. Walaupun begitu, aku merasa seakan ada yang bakal menghilang dariku setelah aku menikah, yaitu kebebasan. Dan pula satu yang akan menuntutku untuk aku jalani kelak adalah tanggung jawab sebagai seorang istri.
Hari ini adalah hari di mana aku bisa melepas lelahku untuk satu hari ini saja, tanpa berhubungan dengan segala hal yang menyangkut pesta pernikahan maupun Bimo. Sore ini, aku sengaja membiarkan diriku sendirian meletakan tubuhku di atas pasir pinggir pantai sambil melihat pemandangan sekeliling yang keindahannya sudah terjamah begitu pula dengan ombaknya yang bergulung tanpa lelah tidak seperti diriku. Aku mendongakan kepalaku ke atas langit. Sungguh menyenangkan bersantai sesaat.
Beberapa saat kemudian aku berdiri ingin mencari sensasi yang lain dari pantai tersebut. Berjalan aku sambil melihat pasir-pasir di mana aku berpijak, sambil mencari kerang yang menarik untuk sekedar diambil dan dilihat. Langkahku terhenti melihat kertas yang sepertinya lebih menarik untuk dilihat, karena terlihat seperti voucher. Bukankah menyenangkan menghabiskan waktu kosong ini apalagi dengan sesuatu yang gratis? Sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk lima hari ke depan. Jaraknya hanya tiga meter di depanku. Segera saja aku mengambil langkah menuju ke arahnya. Begitu jaraknya hanya beberapa cm dari kakiku, aku segera mebungkukkan badanku untuk mengambil kertas berisikan voucher ice cream itu. Tapi, owchh! Kepalaku rasanya terbentur dengan kepala lainnya. Lumayan keras. Ah, rupanya kepalaku berbenturan dengan kepala pemuda yang kiranya umurnya hampir sama denganku yang sepertinya berpikiran sama tentang kertas voucher tersebut.
”Maaf… Milik kamu ya?” sahutku sambil meringis.
Pemuda tersebut terdiam sebentar lalu menjawab,”ehm, bukan…” Dia pun ikutan meringis sambil memandangku. Kemudian dia berkata lagi setelah berpikir sejenak dan mengambil kerstas voucher tersebut, ”Bagaimana kalau kita gunakan bersama?”
Sudah hampir dua tahun pesta pernikahan berlalu dan aku menjalani hidup damaiku berdua bersama Bimo dengan rumah yang cukup luas, rumah yang diberikan oleh orang tua Bimo. Aku bahagia hidup bersamanya, bukan sekedar karena kecukupan, namun karena perasaan cinta Bimo yang tidak surut berjalannya waktu, atau lebih tepatnya mungkin belum. Bukan hanya cinta dari Bimo yang membuatku senang, namun kebebasan yang dia berikan padaku. Dia memperbolehkan aku melakukan hal yang aku suka. Aku dibebaskan untuk bekerja, shopping, jalan-jalan atau mungkin sekedar bertemu teman-teman pada saat dia sedang bekerja. Hanya saja dia mengharuskan aku sudah berada di rumah dengan masakan yang disediakan olehku untuknya saat dia pulang dari kerjanya. Bukan hal yang berat bagiku.
Namun sampai saat ini pun setelah aku menikah, belum juga aku sempat merasakan bagaimana mengasyikannya dunia kerja yang seharusnya aku rasakan bila tak ingin pendidikan yang telah aku lakukan selama ini terasa sia-sia. Bukannya aku selalu gagal dalam test interview pekerjaan atau karena tidak ada yang lowongan pekerjaan yang cocok, namun belum pernah sekali pun aku memasukan surat lamaran kerja ke satu perusahaan pun yang menurutku menarik, Bukannya aku ingin menjadi wirausaha pula, tapi aku memiliki banyak pertimbangan yang membuatku berpikir ulang untuk bekerja. Pertimbangan utamanya adalah pekerjaan akan membuatku susah membagi waktu. Karena setiap jam sepuluh pagi ketika suamiku berada dalam kantornya, aku mempunyai kegiatan rutin yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja sampai jam empat sore.
Aku harus bertemu Gustav. Ya, benar. Gustav adalah nama pemuda di pantai waktu itu, yang ketika itu memberi ide menggunakan voucher bersama denganku. Tidak disangka aku menjadi tidak bisa melepaskan diriku dari pelukannya semenjak pertemuan itu. Aku sungguh membutuhkan dekapan tangannya yang kuat itu setiap hari. Secara fisik aku menyukai semua bagian wajah dan tubuhnya, tidak ada yang tidak aku suka. Bahkan tahi lalatnya pun melekat pada tempat yang tepat. Bukan hanya ketampanan dan ketertarikanku pada badannya yang tegap, namun dia memiliki kepribadian yang tegas, tidak basa-basi, dan simpatik yang membuatku semakin tidak bisa melepaskannya. Keliarannya dalam hal bercinta pun selalu membuat aku semakin bergairah.
Gustav tahu kalo aku sudah bersuami dan dia sadar benar dengan posisi dirinya saat ini. Dia membiarkanku melarangnya untuk datang ke rumahku, tentu aku tak mau tetangga-tetanggaku mempergunjingkan hal yang tak pantas tentang diriku, apalagi kalau sampai suamiku tahu, bisa ditalak pula aku. Begitu pula dengan diriku yang tidak berhak melarang Gustav untuk berhubungan dengan wanita lain.
Siang ini seperti biasanya aku datang ke rumah Gustav, memasuki rumahnya dengan kunci serep yang sengaja dia buatkan untukku seorang diri. Aku melepaskan sepatu hak tinggiku kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia masih tertidur bertelanjang dada. Sungguh tetap terlihat sempurna dirinya dengan wajahnya yang sedang terlelap. Namun begitu, dadanya yang bidang yang dilengkapi dengan bulu pendek halus di atasnya membuat aku tak sanggup bila harus membiarkannya tidur, aku pun melepas jaketku dan naik ke atas tempat tidurnya, sambil tiduran aku memeluknya dari belakang dan meraba-raba bagian tubuhnya yang sensitiv. Matanya terbuka perlahan. Dia terbangun dan menyadari keberadaanku. Dia pun tersenyum padaku dan mengecup bibirku lembut, kemudian dia menutupi matanya dengan kedua tangannya sejenak lalu membukakannya kembali lalu memandangku.
”Sudah lama?” tanyanya padaku.
”Baru saja..”
”Ohh…,”sahutnya.”Aku mandi dulu sebentar,”katanya sambil beranjak dari tempat tidur.
”Tunggu.. Sebenernya hari ini ada yang mesti aku kasih tau, sayang..” pintaku mengehentikan langkah Gustav. Gustav kembali ke tempat tidur dan duduk di sampingku sambil memalingkan wajahnya kepadaku yang dari isyarat matanya dia meminta penjelasanku lebih lanjut. Aku pun segera memberi tahu, ”aku hamil. Kita tidak bisa bermesraan seperti biasanya lagi, kandunganku masih rawan..”
”Anak siapa? Anak Bimo atau anakku?” katanya setelah dia diam beberapa lama sambil matanya terus menatapku.
Aku terdiam sejenak lalu menjawab, ”Anak Bimo.”
” Aku mandi sebentar. Nanti kita berbicara lagi setelah aku selesai mandi.” katanya sambil menghela nafas.
Aku sendiri sebenarnya tidak tahu ini anak siapa, entah Bimo atau Gustav. Naluriku lebih mengatakan bahwa ini anak Gustav, tapi tidak mungkin aku mengatakan ini anak Gustav karena kalau mendengarnya ia pasti memintaku menceraikan Bimo dan menikah dengannya. Aku tidak mau, Bimo adalah orang yang tidak bisa aku lukai hatinya karena kebaikan dan kesetiannya, walaupun sebenarnya aku sudah menghancurkannya secara tidak sengaja dengan perbuatanku dengan Gustav. Sebaliknya, dengan aku mengatakan bahwa ini anak Bimo, hubunganku dengan Gustav berakhir sudah.
Inilah kesepakatan kami berdua sejak awal. Bahwa ketika aku sudah mengandung anak Bimo, aku akan menjadi istri yang setia dan menjadi calon ibu yang baik, tentu saja tidak ada waktu lagi untuk Gustav karena aku akan mencurahkan seluruh perhatianku pada suamiku dan calon anakku ini yang sedang berada dalam kandungan. Gustav pun tidak keberatan karena dia sendiri tidak ingin rumah tangga dan anakku kelak hancur karenanya. Dan tibalah ini hari perpisahanku dengan Gustav yang memang sudah saatnya. Dan aku pun sudah bersiap menjadi istri dan calon ibu yang setia dan perhatian.
Kopi aku sediakan di meja tempat Bimo biasa mengambil cangkirnya dan menyeruputnya. Dia kini berdiri di samping meja sambil tangannya melepaskan dasinya yang berwana hitam lurik, lalu dilemparkannya dasinya di kursi dan jarinya yang berhiaskan cincin meraih telinga cangkir yang aku buatkan. Meminum separuh isinya dan meletakannya, kemudian menghampiriku dan memeluk.
”Mas, aku punya kejutan. Kamu harus mendengarkannya hati-hati, ” bisikku di telinganya dan membebaskan diriku dari pelukannya untuk sementara.
”Kabar gembira ? ” tebaknya. Aku mengangguk, dan dia pun duduk di kursi sebelah meja makan. Aku mengikutinya dan duduk di atas pangkuannya dan menarik tangannya untuk melingkari perutku.
Aku terdiam untuk beberapa saat dengan badanku berpaling ke arahnya lalu memandang kedua matanya sambil tersenyum,lalu berkata pelan, ”aku hamil.” Masih, tersenyum aku menunggu reaksi gembiranya. Terlihat dia masih mencoba mencerna ucapanku kembali.
”Hamil?” tanyanya masih tidak percaya akan apa yang dia dengar sebelumnya. Aku mengangguk tetap dengan bibir yang menaik ke atas.
Satu menit lebih berlalu tidak ada tanda gembira di wajahnya, tangannya yang menggitari perutku sudah seperti tidak ada hasrat lagi dan sudah lemas. Aku pun berdiri dari pangkuannya, kemudian aku menarik kursi ke arah di depannya dan duduk. Kini kedua lengannya diletakkan pada meja dan kepalanya disandarkan di kedua telapak tangannya dan terlihat matanya tertutup.
Aku pun bingung. ” Kamu tidak senang? Apa aku hamil pada waktu yang salah? Kenapa kamu bukannya terlihat gembira?” tanyaku bertubi-tubi namun tetap sabar. Dengan tetap seperti posisinya sebelumnya dia hanya menggeleng. Aku bertambah bingung dan berpikir sesaat mengenai kemungkinan kemungkinan lainnya. Tidak aku temukan jawaban lalu aku bertanya lagi, ”Lalu kenapa kamu begitu?”
Sesaat kemudian dia menengadahkan kepalanya ke atas , melepaskan tangannya dari meja, dan memutar tubuhnya menghadap diriku. Wajah kecewa yang terlihat di rona mukanya membuatku semakin bertanya-tanya dalam hati. Lalu dia berkata, ”Apakah kamu tidak ingat sama sekali?”
”Ingat apa?” tanyaku langsung dan kemudian aku mencoba-coba mengingat. Entah kenapa tiba-tiba aku harus merasa melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku karena ceroboh mengungkapakan perihal kehamilanku.
”Bukankah aku sudah pernah bilang padamu jauh sebelum ini bahwa aku…”dia diam sejenak untuk menarik napas dan mengeluarkannya kembali lalu meneruskan kata-katanya, ”aku selamanya tidak akan bisa membuahi rahimmu. Bukankah kamu sudah tahu itu. Mengapa kamu melupakannya? ” wajahnya menunduk dalam, kemudian menatap tidak percaya padaku memperlihatkan jelas kekecewaannya padaku.
Aku kaget dan rasanya baru sadar diriku telah melupakan hal yang sangat penting dan melakukan kebodohan yang tidak hanya telah menoreh luka pada suamiku namun juga yang kelak akan menghancurkan masa depanku dan jabang bayiku ini. Bodohnya aku!