faradums

November 1, 2008

Katanya

Filed under: cerpen, atau apapun itu — Tags: , , , — faradums @ 3:15 pm

Dia, perempuan itu, sudah lelah. Dia mengatakan padaku berkali-kali, bahwa tidak akan lagi. Dia ingin seperti kaktus yang tak membutuhkan siraman air, ia ingin hidup tanpa perlu menunggu hujan, ia tak mau menggantungkan kehidupannya pada setitik airpun. Baginya tidak akan tenang hidup sebagai bunga walau indah bermahkota karena hatinya akan ketakukan dan selalu bertanya-tanya, kapan musim kemarau akan berakhir, kapan pemiliknya akan mengarahkan semprotan air yang tak berlebihan atau apakah dirinya akan mati segera karena petikan yang memutus batang hijaunya. Karena setelah itu warna cerah dan ceria akan berubah menjadi kehitam-hitaman dan membusuk segera, melebur bersama tanah, sia-sia.

Tanah itu tidak akan peduli bahwa bunga itu dahulu telah hidup dengan bantuannya, karena ketika bunga itu terhempas di tempatnya dia tak akan membantunya untuk kembali hidup.

Baginya yang terlihat indah tidak selalu menyenangkan. Perempuan itu selamanya akan menjadi kaktus berduri tajam, sendiri di gurun pasir, atau sendiri pada potnya, tanpa beban.

Begitu katanya padaku. Aku tak bertanya lagi mengapa begitu. Baginya hidupnya dan bagiku hidupku.

October 6, 2007

CANTIK

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 1:59 am

Parasnya elok menawan, dilengkapi mata bulat hitam dengan pandangan lembut. Tak kalah mempesona adalah bibir merah segar serta hidung mancungnya yang sempurna. Mahkotanya lurus hitam terawat, belum lagi ditambah kulitnya yang putih seperti kapas. Nilainya semakin tinggi dengan lekukan tubuh yang sempurna. Berhasil sudah perempuan itu mempesona banyak mata untuk tidak berkedip memperhatikan dirinya. Banyak pria mungkin tak mampu menahan air liurnya. Begitu pula aku, tak berhenti memandangnya.

Jutaan kilometer dan perjalanan telah aku tempuh, puluhan kota sudah aku singgahi dengan puluhan perempuan kupeluk tanpa perlawanan, namun tak ada yang seindah perempuan ini.

Dengan terusan berwarna merah yang menggairahkan dan sepatu hak tingginya yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah, ia berjalan. Langkahnya pasti. Di sampingku ia berhenti dan meletakkan pantatnya di sebelahku. Wangi tubuhnya membuatku mabuk kepayang, membuatku tak mampu menahan diri.

Ingin kuberbicara padanya namun sampai-sampai mulutku ini terkunci tak mau membuka. Kupandangi terus gadis itu, tanpa kedip. Matanya pun menatapku. Tak henti. Beruntung diriku mendapatkan tatapan dari seorang gadis elok rupawan seperti dirinya.

Aku tak mengerti mengapa tak satu kata dapat terucap, padahal momen seperti ini adalah tak mungkin terjadi kedua kalinya. Bodohnya diriku, kukutuki diriku sendiri dengan kesal, dalam hati.

Masih gadis itu memandangku, dan tanpa disangka, kedua tangannya yang beraksesoriskan gelang itu sudah memelukku. Dua kancing bajunya serta dadanya yang berisi dan bulat dapat kurasakan. Aliran darahku mengalir deras dan berpusat pada satu titik. Ah, ingin aku ikut memeluknya. Namun rupanya tak bisa aku membalas pelukannya, entahlah, kebodohanku rupanya semakin bertambah. Mungkin karena masih tak dapat kupercaya betapa agresifnya gadis ini.

Oh, Tuhan, biarkan gadis ini memelukku begitu lama, namun bagaimanapun aku menunggu kelanjutannya, entah dengan kecupan hangat dari bibir delimanya atau dirinya tanpa terusan merah itu yang dapat membuatku tergila.

Gadis itu masih memelukku, sudah tak sabar diriku. Namun, kini mulai terdengar suaranya dengan tersedu tertahankan. Kubayangkan pipinya yang menggemaskan kini basah oleh air matanya. Tak dapat kudengar jelas kata-katanya. Kini bibirnya yang kunantikan telah menyentuh daun telingaku, dan  berbisiklah dia dan kudengar jelas.

“Ayah…”

Tak mengerti apa maksud dia memanggilku “ayah”. Kudengarkan lagi bisikannya dengan cermat, “Ayah… Jangan tinggalkan aku, Ayah. Bertahanlah. Maafkan anakmu yang durhaka ini. Yang tak merawat ayah ketika sakit keras..”

Isak tangisnya terdengar keras di telingaku.

Ya, Tuhan, hampir saja aku lupa memiliki anak secantik dirinya, hampir dua tahun aku tak bertemu dengan anakku ini. Betapa bertambah cantik dirimu, Nak. Ah, betapa hebatnya aku mempunyai keturunan sesempurna dia. Kutatap dia lamat-lamat.

“Aku sayang, ayah..”katanya lagi tetap dengan tangisnya yang  menggenangi matanya yang mirip dengan mataku.

Tak mampu aku membalas kata-katanya. Bibir dan mulutku sudah kehilangan fungsinya, tak mampu sejak lama kuberbicara. Tubuh pun tak mampu kugerakkan dengan leluasa lagi. Berbaring di tempat tidur, hanya dengan tetes air mataku, aku menjawab.

September 29, 2007

HABIS SUDAH IMAJINASI

Filed under: cerpen, atau apapun itu — Tags: , , , — faradums @ 4:32 am

Sudah lama Janah tidak duduk merenung dengan peluh di dahinya merembes turun sampai hilang sendiri oleh potongan kain yang menutupi auratnya. Pandangnya dalam menunduk, namun seperti tidak konsisten lehernya bergerak naik dan dan matanya bersinar, berubah, setelah menghela nafas panjang dan dadanya melonggar, bahunya pun telah turun yang semenjak tadi terlihat tegang.

berdiri menjauhi kursi. Pikirannya yang sesak telah mencair perlahan seiring dengan semangatnya yang kembali bermunculan, setelah semenjak tadi wajahnya merah padam menahan diri.

Dengan berdalih “hal yang manusiawi”, dia berpikir bahwa emosi yang semenjak tadi ia tahan adalah hal yang sangat wajar. Kalau saja Janah tidak merasa bahwa dirinya sedang diuji Tuhannya, maka sesungguh tidak perlu ia tampung hal yang kala tadi dan dalam seminggu ini memenuhi ruang di dadanya.

Tiba-tiba seminggu ini dia bisa jadi sangat lelah oleh banyak kepentingan, dan bukan kepentingan dirinya sendiri rupanya. Janah harus menyadari bahwa tenaganya dimanfaatkan tanpa peduli dengan dalih sebuah penderitaan yang tak jelas benar adanya. Janah tak diberi kesempatan untuk meregangkan kakinya, merentangkan tubuhnya dan menutup mata walau hanya lima jam saja,

Ada pula kemudian ia harus tahu bahwa teman terbaik pun terkadang harus membuatnya menghentikan degup jantungnya untuk sesaat karena telah mencoret sembarangan arti dari pertemanan itu sendiri.

Kini kakinya mulai lelah menahan berat tubuhnya yang ringan. Mungkin bukan karena berat tubuhnya, namun karena kakinya yang sudah tak ada lagi tenaga untuk menahan segala beban. Tubuhnya terjatuh teratur mengikuti struktur tembok. Kini terlihat dirinya terduduk pada lantai yang berdebu. Terlalu capai, tanpa sadar ia sudah tertidur tanpa daya di lorong sunyi itu sendiri.

Janah, perempuan cerdas bernasib sial.

TAK MAU SATU

Filed under: Uncategorized — faradums @ 4:13 am

Aku rindu. Berlebihan dan membara. Dalam hanya satu tatap menghancurkan, pembawa derita dan gelisah di hati. Satu senyum, satu sentuhan pada telapak kananku. Satu ingatan yang mampu membinasakan hari-hariku yang sebelumnya adalah sedih tak kunjung reda. Bahkan membuatku tak berdaya dan setengah mati penasaran menanti dan menunggu. Entah apakah ini lebih baik ataukah tidak kalah buruk.

Beberapa menit tak sampai lima mampu membuat berbulan hati tak tentu, emosi meluap tak tentu arah. Tak mampu tidur dengan tenang bilakah bisiknya tak kunjung datang menghantar redupnya malam, matinya hari yang telah kusinggahi. Tak habis waktu tanpa penantian, penasaran memuncak mencapai tebingnya.

Berbulan sudah, sirna masanya merenggut jiwaku. Habis pula ingatanku pada waktu yang begitu cepat, lima menit yang tadinya mampu mengeringkan lukaku dalam sekejap Mengikis perlahan-lahan, menghilang bagai dimangsa bumi. Kembali pada masa yang lewat, lagi pada sakitnya jiwa, berulang pada harapan yang sia-sia. Menatapnya setelah sekian lama kutinggalkan pada harapan yang lebih berarti kukira. Mengenangnya setelah berbulan hanya mengingat lima menit tak sampai yang rupanya kini sudah tenggelam tak terselamatkan.

Tak perlu berlama bertahan karena aku semakin muak, lebih membahagiakan rupanya bila kulepas. Tak berguna, tak menguntungkan sedikit pun. Membuang waktu, habis tenaga untuk berpikir. Seperti halnya sekolah, tak perlu berlama-lama bila sampai dua belas tahun tetap tak mengerti arti kata anarkis, kolonial, dan sebagainya. Tak butuh menghabiskan waktu menuntut ilmu, bila terus menghafal, tanpa dipahami, tanpa bisa menggunakan logika dalam berfikir.

Lima menit tak ada artinya lagi. Begitu pula bertahun. Bagiku bukan lagi waktu. Namun peluang.

Tak mau lagi satu, namun kini menjadi tiga atau lebih. Kalau perlu sepuluh sekalian. Atau lebih baik sama sekali tidak bila hanya satu.

March 10, 2007

NAMANYA MURTI

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 8:33 am

Namanya Murti. Itu nama lengkapnya. Tidak ada nama belakang apalagi nama tengah. Dengan memberi nama itu, kedua orang tuanya berharap anaknya itu menjadi seorang wanita yang unggul di lingkungannya kelak. Murti merupakan bahasa jawa yang sama artinya dengan unggul. Namun, beranjak remaja Murti mengganti nama panggilannya menjadi ‘Putri’, tidak jauh berbeda memang dari nama aslinya. Tapi, dia akan membenci setengah mati bila ada yang memanggilnya dengan nama aslinya. Dia akan melirikkan matanya ke sudut matanya, seperti penari bali dengan pandangan mengerikan bila mendengar nama murti keluar dari mulut siapapun itu.

Murti malu pada namanya yang serba singkat lagi ndeso menurutnya. Dia benci pada kedua orang tuanya yang memberikan nama itu. Murti memang tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menarik bagi kaum adam bahkan kaum hawa pun akan ikut terpesona. Dia pikir nama aslinya sangat tidak cocok dengan pribadinya yang sudah maju dan modern. Maka dengan menangis dan meraung-raung tanpa malu, ia meminta orang tuanya mengurus penggantian namanya. Bahkan dia sempat mengancam minggat dan bunuh diri bila keinginannya tidak dipenuhi.

Akhirnya, dengan berat hati kedua orang tuanya menguruskan penggantian nama untuk Murti daripada harus kehilangan anak perempuan satu-satunya. Namanya pun segera berubah menjadi Ifilia Putri sesuai mau Murti,…bukan, maksud saya Putri. Walau sebenarnya ia menginginkan double l pada nama depannya. Tapi, dia sudah cukup senang karena telah berhasil mengangkat harkat dan martabatnya dengan nama yang menurutnya lebih keren dan gaul.

Tanpa perlu menyebarluaskan pada teman-temannya, buku absen di kelas sudah membuat teman-teman sekelasnya merasa kelasnya kedatangan anak baru yang ternyata si Murti itu sendiri yang berganti nama. Dan bila Putri melihat ada daftar yang memuatnya dengan nama lamanya ia akan mencoret-coret nama lamanya sampai tidak kelihatan sama sekali, lalu digantilah dengan nama Ifilia Putri. Dia pun tidak keberatan bila teman-temannya memanggil dengan nama depannya, Ifilia, Ifil, atau Filia. Karena menurutnya nama depannya sangat bagus. Asal jangan pernah ada yang memanggilnya dengan nama Murti, dia tidak akan menengok dan bisa saja membenci seumur hidup atau melakukan kejahatan kecil pada si pemanggil.

Putri sudah tumbuh jauh lebih dewasa dan tetap dengan wajah cantik. Tapi, orang tuanya sudah mengerti dan sadar bahwa mungkin memang takdir bahwa nama anaknya itu berubah. Karena tidak seperti nama lahirnya, Murti yang telah berubah menjadi Putri pun bukanlah anak yang unggul dan menonjol. Putri memang cantik, tapi di sekitarnya pun banyak yang lebih cantik dan pintar.

Orang tuanya yang sudah belajar sedikit bahasa inggris pun akhirnya menyadari nama yang dipilih anaknya saat itu mencerminkan keadaan Putri. Anaknya mungkin lebih jago memilih nama. Putri memang artinya anak perempuan. Lalu Ifilia? Melihat Putri yang bisanya hanya berdandan atau di rumah saja bengong dan menonton TV, mintanya macem-macem, menyusahkan orang tua, tak mau sekolah, kerja pun setengah hati, menurut mereka pun i disamakan saja dengan im adalah bahasa inggris yang artinya tidak, dan fill artinya isi. Bila digabung menjadi ‘tidak berisi’ dan mereka pun mengartikannya dengan ‘tidak berotak’. Anak perempuan yang tidak berotak.

Tapi, kemudian si ibu berpikir, bisa saja kalau dulu dia tidak menyetujui penggantian nama anaknya, si Murti itu bisa jadi anak yang benar-benar unggul, pintar, dan membanggakan. Yah paling-paling anaknya cuma minggat dalam waktu sebentar dan kembali ke rumah lagi. Mana berani dia bunuh diri. Entah apa yang harus disalahkan? Nama atau apa? Ibunya pun terbingung-bingung tak menentu berpikir tiada henti sambil menunggu anaknya dilamar entah berapa lama lagi.

CORET SAJA

Filed under: Uncategorized — faradums @ 8:23 am

Kukatakan bahwa aku lelah, capek, dan kesal. Tak berguna dan tak berarti pula tampaknya. Hujan tetap turun dan badai terus menyerang. Meruntuhkan berbagai harapan yang baru dibangun. Memporak-porandakan sampah yang hendak dibuang.

Tempat yang aman sudah berubah menjadi tempat yang berbahaya. Tempat yang tadinya penuh tawa dan canda pun menjadi tangis dan luka. Hangat telah menjadi dingin, sejuk pun berganti panas. Sudah kulewati dengan biasa hari-hari seperti itu. Semakin terbiasanya sampai-sampai aku semakin menyukai hari penuh bencana dan penderitaan. Terasa aneh bila tidak ada kabar yang mencekam dan mengiris hati banyak orang. Terasa ada yang hampa pula bila aku melihat keadaan adalah baik-baik saja.

Anehkah menyukainya? Bagaimana pun juga aku telah berusaha menghindar, tetap saja nasib mengatakan hal yang berbeda dengan mempertemukan aku dengan kenyataan pahit. Tidak hanya di depan rumah, tapi juga di setiap perjalanan. Apakah aku harus membenci nasib buruk itu? Bagaimana bisa membenci bila hari demi hari tidak terlewatkan satu pun berita di koran tanpa bencana. Apakah aku menyukai sesuatu yang salah? Bukankah kita harus belajar menyukai supaya tetap hidup?

Dan bukankah itu membuat kita belajar? Belajar untuk menghargai alam. Lalu kita akan berjalan dengan semangat baru yang tumbuh, walau kemudian hancur kembali. Setidaknya kita jadi mendekatkan diri pada-Nya. ‘-Nya’nya itu bisa Tuhanku, Tuhanmu, atau bahkan Tuhan yang masih dipertanyakan keberadaannya atau siapa sebenarnya Tuhan itu.

Ketika bencana mereda dan hilang dari hadapan suatu saat yang telah pasti, mungkin akan terasa hampa karena sudah terlanjur terbiasa dan menyukai, namun apakah dengan menghindar atau pun membenci rasa sakit dan luka pun akan langsung terobati?

Tanda tanya adalah untuk kalimat tanya. Dan aku benar-benar bertanya karena tidak tahu. Bukan karena ingin menguji atau menantang. Apa sih yang aku tau.

Entahlah, coret saja semuanya karena aku bahkan tidak bisa membedakan asam, manis, asin atau pun pahit, aku hidup pun  selalu terpenuhi. Sengsara dan derita belum sempat menyentuhku. Tidak pantaslah aku berkata. Menulis pun hanya pake dengkul. Maka hanya buih penuh bualan saja yang keluar dari mulutku karena makna adalah tidak sebenarnya pun seperti itu sungguhnya. (???)

February 25, 2007

MIMPI

Filed under: Uncategorized — faradums @ 10:24 pm

Ketika jangkrik berbunyi, udara dingin menyelimuti, sepi adalah bagiannya, dan kamu berbaring tanpa sadar dan terlelap oleh hening malam memburu waktu sampai kemudian lagi terdengar adzan berkumandang, dingin masih terasa, namun tidak kau dengar ayam berkokok karena kau tidak di desa, hanya suara kendaraan mulai terdengar, kau pun mulai membuka mata, menggerakan seluruh tubuhmu dan di saat itu aku akan bertanya padamu.

“Mimpi apa kamu tadi malam?”

“Ehm…Anu..,” kamu berusaha keras mengingatnya dengan dahi mengernyit dan mata tertutup.

“Mimpi apa?’ tanyaku lagi tidak sabar.

“Aku lupa,” katamu dengan ekspresi tidak berdosa dan benar-benar terlihat kamu menghentikan usahamu untuk mengingatnya.

“Kok bisa? Kamu

kan

baru saja bangun dari tidurmu,” tanyaku masih berharap kamu mengingatnya.

“Aku juga ga tau kenapa aku bisa lupa mimpiku. Mungkin tadi malam aku tidak bermimpi.”

“Ah, kamu bukannya tidak bermimpi. Kamu sih emang suka lupa.”

Kamu mengangkat kedua bahumu, menandakan ketidak tahuan.

“Kamu ini memang!” cemoohku,

“Lalu memangnya kamu sendiri mimpi apa?”

“Ehm…,” aku tidak menjawab pertanyaanmu. Mataku beralih ke arah langit-langit, menandakan aku ingat mimpiku namun ragu-ragu untuk mengatakannya padamu.

“Ya sudah kalau kamu ga mau cerita,” katamu merujuk membalikan badan.

Aku pun berdiam diri beberapa saat, menunggu kamu bertanya lagi seperti tadi aku berkali-kali menanyakannya padamu dengan antusias.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Dua menit. Ah, aku memang tidak sabar.

“Kok ga tanya lagi sih?”

“Lho, kamu berharap aku bertanya?” balik kamu bertanya seraya membalikkan tubuhmu.

“Iya.”

“Tadi kamu juga ga jawab. Kalo kamu emang ga mau jawab ya aku juga gapapa.”

“Uuhh. Sebel.”

“Ya udah emangnya kamu mimpi apa sih?” tanyamu seperti ayah yang menghadapi anaknya yang masih kecil dan susah diatur.

“Aku.., aku..,” aku diam, tapi tidak mengaruk-garuk kepalaku karena aku sudah keramas. Kamu menunggu.

Aku melanjutkan kata-kataku setelah diam beberapa saat.

“Aku mimpi kamu.”

“Aku bermimpi kamu yang tidak memimpikanku. Aku memimpikan kamu yang hanya sebuah ilusi dan khayalanku semata.” Kataku sambil menghapus bayang-bayangmu yang semenjak tadi menemani fantasiku, membiarkanmu meninggalkan aku sendiri.

February 22, 2007

METAMORFOSIS

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 7:30 am

Aku masih ingat, bagaimana kami berbasah-basahan dalam suatu
got yang lebarnya satu meter, mencari kecebong, menangkapnya dengan jaring.
Begitu sekat-sekat pada jaring menangkap beberapa ekor kecebong, kami
mengamatinya sejenak lalu kami kembalikan pada air keruh di got lagi. Kami sama
sekali tidak jijik pada air keruh itu, begitu pula pada kecebong yang merupakan
anak katak itu. Padahal kalau kecebong itu sudah menjadi dewasa, aku pasti akan
melihatnya jijik, tidak mau menyentuhnya. Dan segera mengusirnya dari hadapanku.

 

Di hadapanku kini pun terdapat seorang teman kecilku dulu, di
mana saat dulu kami sama-sama bermain mencari kecebong, mencari jangkring untuk
mendengarkan bunyinya pada malam hari, atau pun bermain gobag sodor. Kini teman
kecilku sudah menjadi laki-laki dewasa yang membawa seikat bunga mawar untukku
dan sekotak perhiasan emas putih, bahkan sudah berani melamarku, terang-terangan
di hadapan orang tuaku. Sudah menjadi orang sukses yang bisa aku lihat dari
setelannya dan mobil mewah plus supir pribadinya yang dibawanya ke rumahku. Tapi,
untukku dia telah berubah sama halnya dari kecebong menjadi katak dewasa,
bermetamorfosis.

 

Aku sama sekali tidak ada keinginan berdekat-dekat dengannya,
tidak ingin berlama-lama di dekatnya. Memang benar kaya sudah dirinya, berbeda
dengan diriku masih dengan kehidupan stabil seperti dahulu walau pun sudah mampu
bekerja sendiri. Namun aku tidak merasa sampai begitu kekurangannya diriku
sampai-sampai harus menerima lamaran pria yang sudah berubah menjadi budak uang
menghalalkan berbagai cara untuk memuaskan macam-macam keinginannya secara
materi yang tidak ada habisnya.

 

Berbeda dengan diriku, kedua orang tuaku memaksaku untuk
menerima lamarannya. Terlihat dari sikap mereka bahwa mereka sangat kagum pada
Bian, anak tetangga kami  belasan tahun yang lalu yang selalu memakai kaus
singlet jika sedang bermain-main di sekitar rumah kini telah berubah menjadi
orang tingkat atas yang sukses dan bahagia karena banyak duit. Ibuku menagis
ketika aku menolak mentah-mentah lamarannya. Tidak mau berbicara denganku, tidak
mau menemuiku, tidak mau makan dan lain sebagainya yang membuat aku merasa
bersalah sebagai seorang anak yang sepertinya tidak bisa membalas budi.

 

Padahal, kedua  orang tuaku tahu kalau sebelumnya aku sudah
memiliki kekasih-Aryo. Sebelumnya pula kedua orang tuaku membuka pintu lebar
sekali untuk Aryo. Aryo lelaki yang bertanggung jawab, baik, jujur, menarik
secara fisik, dan terlebih sudah bekerja menjadi staff suatu perusahaan swasta,
cukup sempurna untuk jadi suamiku kelak. Itulah tanggapan kedua orangtuaku
sebelum Bian datang dan menurut aku mengganggu hidupku walau menurut orang tuaku
adalah menyempurnakan dan membahagiakan hidupku. Kini telepon dari Aryo pun
langsung diputus, apalagi bila bertemu. Berhasil sudah mereka membuat Aryo
menyerah dan membuatnya mencari perempuan lain untuk diajak berhubungan serius.
Orang tuaku berpendapat bahwa Aryo dan Bian tidak dapat dibandingkan, Aryo kalah
jauh dengan Bian. Ya, betul bila ukuran perbandingannya adalah materi dan
jabatan.

 

Kecewa dengan Aryo dan takut dibilang anak durhaka pun
akhirnya aku menikah dengan Bian. Melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia,
bersorak gembira memamerkan pada saudara-saudarku bahkan yang bisanya tidak
pernah ditelepon, mengundang mereka untuk datang, dan menunjukkan betapa kaya
dan suksesnya menantunya dan betapa beruntungnya anaknya, tapi sekiranya hanya
diriku yang merasa malang nasibnya apalagi melihat Aryo datang dalam pesta
pernikahanku dengan perempuan barunya, menyalamiku, dan memberi selamat dengan
tenangnya.

 

Menghabisnkan malam pertama dengan terpaksa, seolah-olah
seperti kewajiban yang memberatkan, manalagi dengan lelaki yang sudah aku kenal
lama namun sudah berubah jauh sifat dan sikapnya dari yang dahulu aku kenal.
Pasrah, membiarkan dirinya menghabisiku pada malam itu, tanpa balasan dan reaksi
berarti. Toh, dia tahu kalau aku tidak mencintainya. Tapi, tetap saja tiap malam
dia memakanku seperti binatang yang kelaparannya.

 

Tujuh bulan sudah aku terbiasa dengan Bian, lelaki yang
menikahiku karena penasaran denganku dan merasa bahwa aku cinta pertamanya. Tapi
cinta pertama menurutku hanya berlalu begitu saja, seharusnya bukan cinta
pertama yang dia nikahi namun cinta sejatinya. Aku tahu persis itu dan melihat
kebenaran pada kenyataan yang ada pula.

 

Bian memiliki banyak rumah, tapi kini dia memutuskan untuk
membangun satu rumah lagi yang lebih megah dari rumah ini. Sudah aku duga
sebelumnya, dia akan pindah ke rumah yang lebih megah itu dan tinggal bersama
istri mudanya. Aku tidak peduli. Entah wanita itu cinta sejatinya atau bukan,
kalau bukan, Bian mungkin sudah memiliki sepuluh istri untuk sepuluh tahun
kedepan. Ya itu istri, belum lagi kalu dihitung dengan pelacur-pelacur yang
mengerogoti hartanya tiap minggunya.

 

Untung saja waktu tujuh bulan belum bisa membuat aku
benar-benar mencintainya, jadi aku tidak perlu terlalu makan hati melihatnya
menikah dengan perempuan lain. Bukan saat ini aku akan cemburu karena di nomor
duakan atau tidak dapat nafkah biologis, lebih baik aku menyulam atau apapun itu
untuk jabang bayi di perutku yang sedikit mulai membesar ini, memperdengarkannya
dengan music classic, supaya tumbuh menjadi anak cerdas dan pintar, kalau bisa
nanti akan kuajarkan bagaimana menjadi manusia yang berkepribadian supaya tidak
seperti ayahnya yang membuat sengsara banyak orang kecil dan tidak seperti aku
pula yang tidak bisa mempertahankan prinsip dalam hidup.

February 11, 2007

BUKAN SALAHKU

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 1:00 am

“Ayah, ayah!”

Teriakan itu membangunkanku dari kegiatan yang aku lakukan sejak tadi. Aku pun segera mematikan kompor dan meletakkan soled pada wajannya. Aku segera melangkahlan kedua kakiku dengan cepat, membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar kecil tempat anakku berada. Masih terdengar teriakannya ketika aku memasuki kamarnya.

“Bangun! Bangun! Anisa, bangun!” Aku menggoyang-goyangkan tubuh anakku dengan kasar dan dengan suaraku yang lantang.

Anisa membuka matanya perlahan-lahan, entah melihat ekspresi wajahku dia langsung ketakutan. “Bunda, Bunda, maaf… Maaf, apa Anisa mengigau lagi. Maaf Bunda, Anisa hanya mimpi. Maaf, Bunda…”,segera duduk tubuhnya pun ke arah papan tempat tidurnya menjauh dariku yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya. Suaranya pun gemetaran. Wajahnya seperti melihat dewa kematian, matanya kadang terlihat menutup seperti sudah bersiap bila ada yang mencabut nyawanya.

Melihatnya begitu pun, aku hanya menjewer telinganya sampai dia merengek kesakitan dan memohon ampun padaku. Telinganya pun memerah. Biasanya aku tidak segan-segan menampar pipinya, menyiramnya dengan air atau dengan sulak atau sapu lidi aku biasa memukulnya, bahkan kadang aku membuatnya jera dengan mengurungnya dalam kamar mandi berjam-jam. “Bunda kan sudah bilang berkali-kali! Jangan sebut-sebut yang Bunda ga mau denger walau cuma di dalam mimpi! Kamu cuma punya Bunda! Ayahmu sudah Bunda anggap mati, tau ga sih dia bajingan! Coba, dulu kamu mengenalnya saat kamu sudah bisa berpikir! Dia brengsek tau!” teriakku keras memekakkan telinganya.

“Capek Bunda sama kamu! Bangun sana, mandi! Jangan tidur terus! Bisa-bisa kamu mimpiin orang ga berguna itu lagi! Bantu Bunda di dapur kalo udah mandi.” Setelah melihat anggukan kecilnya aku pun segera keluar dari kamarnya.

Aku singgah ke kamarku dan terduduk lemas di tepi kasur. Aku heran mengapa pula anakku selalu memimpikan ayahnya ketika tidur Lagi-lagi aku tersadar bahwa tanpa kendali aku telah menyiksa anakku lagi. Entah ibu macam apa aku ini. Tapi, aku benar, aku tidak salah!. Ini semua salah ayahmu, Nak! Dia meninggalkanku dengan wanita lain, meninggalkanku di kontrakan ini. Meninggalkanku dengan hanya uang sepuluh ribu di tanganku. Meninggalkanmu pula yang masih berumur tiga tahun.

Bukankah seharusnya kamu menghargai pengorbanan ibumu yang membesarkanmu sendirian hanya dengan tidak menyebut-nyebut ayahmu? Apakah kamu tau bagaimana perjuangan ibumu ini? Untuk membayar kontrakan rumah pun, ibu harus membayar dengan tubuh ibu hampir tiap malam kepada pemilik rumah. Untuk memenuhi kebutuhan kita, ibu harus meminjam uang pada lintah darat dengan bunga yang tinggi. Tak jarang ibu menerima pukulan, atau membiarkan barang-barang yang tidak berharga pun ikut disita karena ibu tak mampu membayar utang.

Tapi kini dengan perjuangan keras ibu, ibu tidak perlu lagi membayar kontrakan dengan tubuh dan ibu tidak perlu lagi meminjam uang. Ibu sudah bisa menghidupi kamu walau tidak mewah dengan toko klontong, warung makan, dan gorengan di kontrakan ini tanpa mengenal lelah. Ini semua demi kamu.

Maafkan ibu, Nak. Ibu bukannya mau menjahati atau menyiksa kamu, ibu hanya ingin kamu tidak mengingat-ingat ayahmu itu. Dia sudah membuat ibu dan kamu susah. Tenang saja, Nak. Di ulang tahunmu yang ke sebelas nanti ibu akan membuatmu senang, ibu akan belikan baju yang kamu inginkan sejak kemarin walau kamu tidak bilang padaku kamu menginginkannya, tapi ibu tau dari matamu saat melihat baju di toko yang kita lewati saat hendak ke pasar. Ibu sayang kamu, Anisa.

Pikiranku lelah, lebih baik aku berbaring dulu di tempat tidur sebentar sebelum melanjutkan kerjaanku. Aku menghempaskan tubuhku pada kasur dan tertidur sejenak tanpa sadar.

***

Airnya terasa dingin. Benar-benar dingin. Rasanya tubuhku hampir membeku. Namun tetap saja rasa panas dan sakit di daun telingaku masih sangat terasa. Aku pun segera melepaskan handuk dan memakai baju bersih yang sudah cukup kumal setelah selesai dari kamar mandi.

Aku segera ke dapur setelah menyisir rambutku. Kosong. Aku pun melangkah ke arah kompor, menyalakannya, mengambil solednya. Bunda sepertinya tadi sedang menggoreng tahu isi sebelum Bunda ke kamarku dan membangunkanku. Masih baru. Belum cukup matang. Masih harus menunggu.

Apa Bunda sedang di kamarnya? Aku pun ke arah kamarnya, pintunya terbuka. Aku bersandar di tembok sebelah pintu sambil melihat wanita yang telah melahirkanku tertidur. Bunda selalu begitu. Tertidur pulas setelah bisa menyakitiku. Memangnya apa salahku? Bukankah wajar bila seorang anak mengingat ayahnya. Atau itu hanya alasan Bunda saja? Atau aku memang tidak diinginkan, atau aku menyusahkanmu? Bukannya selama ini aku sudah berusaha jadi anak yang baik? Aku tidak pernah meminta macam-macam pada bunda. Aku tidak pernah minta dibelikan baju yang aku sukai di toko itu, padahal anak lainnya pasti akan segera merengek dan menagis bila tidak dibelikan. Aku juga selalu membela bunda ketika ibu-ibu di kampung membicarakan hal jelek tentang bunda. Aku juga tidak malu menampakkan bekas merah tamparan atau pukulanmu pada teman-temanku karena aku pikir itulah tanda kasih sayangmu.

Tapi, sekarang aku makin ragu, bunda. Bunda setiap hari menyakitiku, menyiksaku. Bunda pasti tidak menyayangiku. Aku tidak kuat lagi bunda, bahkan air mataku pun sudah mengering, entah mungkin sudah habis karena sudah lelah tiap hari aku menangis karenamu. Maafkan aku bunda, tapi ini bukan salahku, ini semua salah bunda.

Aku pun berjingkat kecil ke arah meja kaca dan memungut dompet di atas meja itu. Aku pun mengambil tiga per empat bagiannya dan memasukannya dalam saku celanaku. Kembali berjingkat aku keluar dari kamar dan mengambil tas kecil satu-satunya yang aku punya dan memasukan satu pasang baju yang paling bagus di antara yang lainnya.

Pelan-pelan pun aku keluar dari rumah, memandang ke arah rumah sebentar, kemudian aku pun berjalan cepat keluar rumah. Sedikit aku ketakutan. Tapi aku juga tidak mau ketakutan setiap hari di dalam rumah.

Bunda, aku memang bukan anak berbakti, tapi bundalah penyebabnya. Aku akan pergi mencari ayah. Ayah pasti merindukanku. Mungkin ayah juga mempunyai alasan yang sama denganku hingga sampai saat ini pula aku tidak bisa bertemu dengannya.

Ayah aku akan mencarimu. Aku pasti menemukanmu, aku punya fotomu, aku selalu mengingatmu walau tanpa sepengetahuan bunda.

Tak terasa, sepertinya dua jam lebih aku berjalan. Aku bingung harus kemana. Sudah hampir gelap. Sudah aku gunakan sebagian uangku untuk membeli roti dan minum. Ternyata bukan hal yang mudah mencari ayah untuk anak kecil seperti aku. Tiap orang yang kutemui mengatakan tidak pernah melihat ayahku. Aku menjadi ragu untuk terus mencari. Aku tidak bisa begini terus, aku tidak punya tempat tinggal.

Baiklah, aku harus kembali ke rumah. Walau mungkin bunda sudah menungguku untuk memukulku atau mengurungku atau mungkin saja aku bisa dibunuhnya kali ini. Aku memang takut. Tapi aku hanya punya uang lima belas ribu rupiah di tangan.

Kembali aku berjalan lunglai ke arah rumah dengan tetap menyimpan harapan menemukan ayahku di perjalanan pulang. Nihil. Sebentar lagi aku pasti sampai rumah, ini sudah melewati rumah Pak Dul yang jaraknya lima belas rumah dari rumahku. Aku berhenti sejenak. Aku takut. Aku bimbang.

“Anisa, Anisa! Kamu dari mana?” Tiba-tiba Pak Dul datang sambil memegangi pundakku, wajahnya terlihat cemas dan berkeringat. Aku pun kaget dan bingung. Jangan-jangan bunda kasih tau orang sekampung kalau aku kabur dan mencuri uang bunda.

“Anisa, rumahmu, Anisa! Rumahmu kebakaran! Ibumu, Anisa. Ibumu masih di dalam!” serunya cemas. Mataku menatap air muka Pak Dul berharap dia sedang berbohong atau mengerjai aku. Masih tidak percaya namun aku pun harus percaya melihat ember penuh air di sampingnya. “Ibumu sepertinya uda ga bakal tertolong, Nak!” Aku terpana dan baru sadar bahwa orang-orang di sekitarku berlarian dengan ember dan kain-kain kumal tebal untuk memadamkan api.

Aku bingung, aku pusing, aku kehilangan pikiranku untuk sementara dan terdiam sebentar sebelum memutuskan untuk berlari ke arah rumah. Tunggu, apa ini salahku? Aku ingat kompor pun belum sempat aku matikan saat tadi aku pergi. Bunda! Bunda! Apa aku yang membunuhmu? Atau mungkinkah ini memang sudah takdir dan nasibmu sebagai balasan kamu melukaiku tiap hari? Ini bukan salahku, aku bukan pembunuh pula, aku tidak sengaja, ini takdirmu! Ini takdirmu karena dosamu padaku! Tapi Bunda, bukan seperti ini mauku! Bunda, jangan pergi dulu!

BULAN YANG DINGIN

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 12:56 am

Bulan-bulan seperti ini memang selalu terasa dingin, walau air hujan sudah mengering dan tanah tidak terlihat basah lagi seperti beberapa jam yang lalu, namun aku tetap harus memeluk erat kedua lenganku untuk melindungi diriku dari udara yang bisa mengalahkan niatku untuk keluar dari rumah, tempat perlindunganku. Pasti lebih menyenangkan berada tetap pada kasur yang walaupun tidak empuk sekalipun namun bisa memberi sedikit kehangatan dengan di bawah selimut yang walau tidak tebal pula menutupi tubuhku serta telapak kakiku yang kedinginan.

Namun saat ini aku berdiri, bukan di dalam rumah atau pun di luar rumah, namun aku berdiri di dalam sebuah gedung. Gedung yang tidak kalah dinginnya seperti dingin ketika aku berkendara motor setelah hujan baru reda, gedung yang menggunakan air conditioner pada setiap dindingnya yang tiap-tiap jaraknya hanya sampai lima meter saja. Mungkin tidak akan sedingin ini bila aku memasukinya bukan pada bulan dengan cuaca sedingin ini.

Sedikit aku merasa hangat karena aku tidak sendiri. Aku bersama teman-teman yang aku kenal baik. Bersapa, berbincang, dan bertanya kabar masing-masing.Walau begitu aku masih merasa aneh dan bagai mimpi aku berada di gedung ini dengan sepatu hak tinggi, pakaian yang minim dan tidak tebal, serta dandanku yang berbeda dari hari-hari biasanya. Merasa bingung pula mengapa aku datang ke tempat ini.

Pemandangan di depanku selalu mengusik untuk dilihat dan membuatku penasaran. Aku mengenal salah satu di antara mereka. Ah, ekspresi itu lagi. Ekspresi bahagia dan gembira yang menurutku terlalu berlebihan. Dengan warna yang sama yaitu ungu, mereka tertawa, tersenyum, memperlihatkan sinar kebahagian mereka dengan wajah dan gerak-geriknya. Mereka memang berjodoh, buktinya mereka bisa melaksanakan resepsi semewah ini setelah melaksanakan akad nikah di masjid beberapa jam yang lalu.

Mungkin bila aku sedang wisuda atau bekerja di pulau yang berbeda adalah alasan yang tepat kalau aku tidak datang. Seperti alasan Intan Nuraini ketika ditanya wartawan mengapa tidak datang ke pesta perkawinan Syahrul Gunawan, mantan kekasihnya. Tapi, aku sudah lulus dari kuliahku dan menjadi pengangguran yang tidak bekerja di mana pun. Walau sebenarnya aku memang tidak harus datang, toh sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak saling menanyakan kabar pada pria di atas pelaminan itu, bahkan ketika kami tidak sengaja bertemu pun dia hanya menyapaku seadanya dan setelah itu dia menganggapku tidak ada di satu tempat yang sama.

Aku bediri di gedung besar ini dan membiarkan udara menyentuh tubuhku dengan bebas hingga membuat badanku menggigil bukan sekedar untuk memperlihatkan padanya dan teman-temanku bahwa aku menerima kenyataan kini dia sudah menjadi milik orang lain, namun aku juga ingin melihat wajah bahagia dari pria yang pernah mewarnai hari-hariku selama tiga tahun ini sebelum kami memutuskan untuk berpisah. Aku ingin pula ikut berbahagia dengan melihat senyumnya merekah dengan pernikahan yang membuatnya lepas dari masa lajangnya, walau aku datang ke sini tanpa menggandeng atau menggenggam tangan pria lain yang mungkin saja dapat membuatku tidak merasakan dingin seperti sekarang.

“Ratna!”

Aku tersentak dari bermacam pikiranku. Dewi, teman di sebelahku berkata, “Hey, jangan diam saja. Ayo kita makan. Aku udah laper. Kamu juga kan? Yuk!” Tanpa menunggu jawabanku, tangannya pun segera menarik tanganku menuju tempat-tempat makanan yang dipenuhi tamu lainnya yang juga aku kenal beberapa di antaranya. Aku pun baru sadar kalau aku juga lapar karena udara dingin saat ini sungguh meningkatkan napsuku untuk segera makan dan mencicipi bermacam-macam jenis makanan yang tak kalah mewahnya dengan resepsi ini.

January 29, 2007

PERAWAN TUA

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 2:00 am

Namaku Nastiti. Aku adalah seorang wanita berumur tiga puluh empat tahun hampir tiga puluh lima tahun. Sudah berkepala tiga namun tetap perawan. Perawan tua. Sebutan tersebut bukan sekedar karena aku belum menikah namun juga karena aku bahkan belum merasakan nikmatnya bercinta. Aku sudah cukup puas menikmatinya dengan masturbasi di tengah malam. Tidak munafik, bagaimanapun itu adalah kebutuhan biologisku sebagai wanita yang dewasa atau lebih tepatnya wanita yang berumur.

Mungkin orang tuaku sudah capai pula mencarikan aku jodoh, mereka benar-benar sudah memasrahkan akan kesulitan diriku dalam mencari pasangan hidup. Aku tahu, perjodohan walau pun awalnya tidak saling suka atau tidak saling kenal sekalipun bisa saja kelaknya menjadi saling cinta karena terbiasa menjalani hidup bersama-sama tiap harinya. Namun aku masih tidak bisa menerima kalau malam pertamaku dengan pria yang tidak aku cintai. Yah, mungkin aku terlalu pemilih. Biarlah, setidaknya ada kakak-kakakku yang dapat membuatkan cucu untuk mereka.

“Bu, sudah,“ sahut anak di sebelahku sambil menyerahkan spidol dan beranjak ke tempat duduknya membuyarkan lamunan dan menyadarkan tentang keberadaanku yang sedang bekerja sebagai pahlawan tanpa tanda saja, singkatnya saja guru.

“Ya. Mari kita lihat jawabannya anak-anak!”, seruku sambil berdiri dari kursiku dan berjalan ke arah papan tulis. Aku memandangi jawaban muridku, lalu aku berkata, “Nah, ini baru benar.”

Anak-anak di depanku kemudian terlihat menyalin jawaban di papan tulis, entah mereka benar-benar menyalin atau sekedar bercoret-coret karena aku sedang memandangi mereka. Aku pun melihat jam dinding di tembok depan. Sebentar lagi bel. “Baiklah, anak-anak. PR untuk kalian semua. Buku cetak, halaman 65. Nomer satu sampai dua puluh lima. Dikumpul pertemuan berikutnya, dua hari lagi.” Ujarku sambil membuka-buka halaman buku cetak. Anak-anak menggerutu sepertinya. Aku segera membereskan buku dan alat tulisku.

“Baik. Selamat siang anak-anak.”sapaku mengakhiri kelas dan melangkah pergi keluar kelas. Aku pun mendengar anak-anak berseragam putih biru itu membalas, namun aku masih mendengar salah satu di antara mereka sepertinya mengomel-omel sambil berkata, “Dasar perawan tua.”

Entah bagaimana mereka bisa tahu. Tapi memang benar seperti itulah diriku., jadi aku tidak bisa membantah atau membuat anak itu masuk ke ruang BK untuk sekedar dihukum karena menghinaku.

***

Hari ini hari ulang tahunku yang ke-35. Hanya kedua orang tuaku saja yang mengucapkan selamat, tadi pagi, tentu saja dengan tambahan doa-doa mereka agar aku cepat bertemu jodoh. Parahnya ini hari Minggu, mungkin kalau ini hari lainnya aku akan mendengar ucapan selamat dari rekan-rekan kerja lainnnya. Tapi bukan masalah. Aku bukan lagi anak ABG yang membutuhkan ucapan selamat dari teman-temannya.

Hari ini aku hanya ingin menyenangkan diriku dengan berjalan-jalan ke mall. Mungkin saja doa-doa orang tuaku tadi pagi akan segera terkabul hari ini bila aku tidak hanya berdiam diri di rumah.

Mall ini isinya anak muda kebanyakan. Penuh, aku pusing. Semoga saja aku tidak bertemu dengan murid-muridku. Aku melangkahkan kakiku ke eskalator. Lebih baik aku ke bioskop saja, pikirku.

Aku pun memasuki ruangan ber-AC dengan karpet merahnya. Di sini juga ramai. Apa sebaiknya aku pulang saja? Ah, tapi tidak apalah. Daripada aku ke sini tidak dapat apa-apa, setidaknya aku dapat menonton film.

Aku segera mengantri untuk membeli tiket. Segera setelah aku memilih film romantis satu-satunya yang ada aku memilih tempat duduk dan membayar tiket. Aku pun keluar dari antrian. Hm, sebentar lagi sepertinya. Sepuluh menit lagi. Mungkin lebih baik aku membeli minum.

Aku berjalan ke arah tempat penjualan soft drink, namun tiba-tiba aku dikagetkan oleh tangan yang menepuk pundaku. Aku pun lantas menengok.

“Titi ya?” tebak pria yang menepuk pundakku itu. Aku terperangah kaget tidak percaya.

“Dimas?” “Haha.. Ternyata benar. Sudah lama ya..” Pria tersebut pun tersenyum dan menawarkan tangannya untuk dijabat. Aku pun menjabatnya sambil membalas senyumannya.

“Gimana kabar? Denger-denger sekarang kamu jadi guru, ya?”tanyanya.

“Iya bener.. Guru SMP. Kamu sendiri? Bukannya kamu terakhir aku denger kamu kerja di Riau? Kok bisa nyampe sini? Liburan?”

“Iya dulu sih di Riau. Ini baru dipindah tugasin aja kok. Jadi aku netap di sini, bukan liburan. Aku nyari-nyari nomer kamu, tapi kayanya kamu suka banget ganti nomer ya..?”

“Hehe, kemaren-kemaren ini HP-ku ilang. Tapi ni udah dapet HP baru lagi, nomernya juga ganti sih. Nomermu berapa? Nomermu aku gak punya, gara-gara kejadian dulu.”aku mengeluarkan HP dari tasku dan bersiap mencatat nomernya. Kami pun saling bertukar nomer.

“Ngomong-ngomong? Kamu juga mau nonton nih?”tanyaku sambil kembali memasukkan HP ku.

“Wah, baru aja nonton. Tadi sama temen-temen kerjaku, tapi pada ngilang tuh. Kamu sendiri aja? “

“Iya.” Jawabku dengan tersenyum pahit.

“Ya udah, kayanya uda mulai dibuka tuh pintunya. Nanti malem makan bareng ya? Aku yang traktir. Kita rayain berdua, kalo kamu gada acara?”

“Ah, tentu saja. Kita rayain pertemuan kita. Hahaha…”jawabku menyetujui usulannya sambil tertawa.

“Bukan. Ulang tahun kamu. Aku masih inget kok.” Katanya sambil tersenyum penuh arti. Aku terdiam tidak percaya. “Oke deh, aku duluan cari teman-temanku. Nanti aku telpon kamu. Bye!” sahutnya beranjak pergi. Aku masih tidak percaya atas apa yang aku lihat dan aku dengar.

Dimas, mantan pacarku dulu waktu aku menuntut ilmu dan berkuliah di kota ini. Kami dulu satu kelas, kami berpacaran, namun kami harus putus pula karena dia harus pindah ke luar pulau begitu lulus kuliah. Dan kini kami bertemu lagi. Aku tadi sudah meyakinkan pula bahwa tidak ada sebuah cincin pun yang dia pakai. Aku bersorak gembira dalam hati. Ibu, Bapak, doa kalian mungkin akan terkabul. Akhirnya mungkin pula aku akan merasakan nikmat bercinta yang pernah diceritakan teman-temanku.

Aku memasuki ruangan tempat aku akan menonton karena film sudah akan dimulai. Masih meluap-luap kegembiraan hatiku bertemu Dimas membayangkan berbagai macam hal yang akan terjadi, sampai-sampai aku tersadar aku lupa membeli soft drink saat aku sudah duduk di kursi yang aku pilih tadi.

Tapi kemudian, aku berpikir, apakah aku begitu sial dan malangnya sehingga aku harus menerima sebuah kertas bertuliskan, “Selamat. Anda telah bergabung dengan komunitas AIDS kami” bersamaan rasa tertusuk sedikit sakit di pahaku. Mencoba mencerna apa yang aku baca besinarkan HPku yang menyala. Masih berharap ini hanya mimpi, namun aku tidak terbangun pula.

Berpikir kembali, sebegini ironisnya kah yang harus aku jalani, ketika baru saja aku bertemu dengan pria impianku. Bayangan yang sudah aku mimpi-mimpikan barusan saja harus lenyap. Entah bagaimana nanti malam, entah bagaimana esok. Selamat tinggal pula, Dimas. Sepertinya aku akan tetap menjadi perawan tua tanpa memakai cincin di jari manisku sampai sisa waktuku yang tidak tentu, pikirku lagi sambil menyesali nasibku sejenak, sebelum mencari dalang kehancuran hidupku yang tragis.

January 27, 2007

uhm?? cheese?

Filed under: lain-lain — faradums @ 1:22 am

Hari
ini saya baru saja membaca sebuah buku berjudul “Who Moved My
Cheese?”. Buku yang bagus untuk dibaca ini karangan Spencer
Johnson. Sebenarnya buku ini sudah lama diterbitkan tapi saya baru
membacanya. Buku ini bukan buku yang berat untuk dibaca. Terdiri dari
sekitar 100 halaman, sekilas tampilannya mungkin lebih terlihat
seperti buku bacaan untuk anak SD dengan huruf-huruf besar yang
memenuhi tiap halamannya.

Buku
ini memuat sesuatu cerita yang di dalamnya terdapat dua tikus (Sniff
dan Scury) dan dua kurcaci (Hem dan Haw) dengan karakter yang berbeda
dengan tujuan sama yaitu mencari cheese mereka yang
diibaratkan dengan keinginan atau cita-cita dalam kehidupan, bisa
berupa pekerjaan, kekayaan, kesuksesan, keluarga atau pun cinta.

Setelah
membaca buku ini, ternyata karakter saya sama dengan salah satu tokoh
di cerita tersebut, yaitu Hem. Hem adalah kurcaci yang tidak peka
terhadap perubahan, begitu mudah merasa nyaman akan apa yang telah
didapatkan (cheese), sehingga ketika cheese itu hilang
karena ketidaksadarannya akan perubahan, ia hanya bisa berdiam diri
tetap pada station cheese tersebut menunggu sampai cheese
itu kembali karena dia sudah merasa cheese itulah satu-satunya
yang tepat untuknya dan masih tidak percaya atas kehilangannya, dan
bukannya berusaha mencari cheese baru karena dia berpikir
belum tentu ia akan mendapatkan cheese baru tersebut,
seandainya dia mendapatkan pun dia pikir pasti rasanya tidak seperti
cheese lamanya.

Ya
memang itulah saya, Hem. Hem yang memiliki otak dan pikiran tapi
kalah dengan tikus-tikus yang bertindak menggunakan insting mereka
yang akhirnya menemukan cheese yang baru. Namun membaca cerita ini,
saya pikir saya pasti bisa berubah menjadi seperti Haw, kurcaci yang
menertawakan kebodohannya sendiri karena menunggu di station cheese
yang lama bukannya malah mencari cheese yang baru karena
sebenarnya peluang mendapatkan cheese baru lebih besar
dibandingkan berdiam diri menunggu cheese yang lama datang
kembali dan ia dengan kesungguhannya pula setelah menyadari
kebodohannya kembali berlari mencari cheese yang baru walaupun
bukan hal yang mudah, cepat  dan melalui banyak rintangan. Dengan
cheese barunya yang lebih enak dia akan lebih siap menghadapi dan menyesuaikan
diri dengan perubahan-perubahan yang ada.

Buku
ini memang sangat bagus untuk dibaca namun bagaimana pun juga hanya
pikiran saya atau Anda sekalipun yang dapat mengendalikan dan memacu
atas apa yang akan saya atau Anda lakukan. Kadang-kadang kita memang
hanya berbicara dan memahami namun tidak bisa mempraktekannya. Tapi
saya setuju dengan mencari cheese yang baru sebelum terlambat
dan menyesali karena waktu yang terbatas.

January 15, 2007

IBU, JANGAN LARI

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 11:28 pm

Ramai sekali jalanan di sini, padahal udara terasa panas sekali. Orang-orang selalu berlalu lalang di sini. Mungkin karena toko besar di sana, aku sering melihat mereka memasuki tempat itu. Aku ingin ke sana, tapi tidak bisa. Pasti aku bertemu musuhku di sana.  Huh, dia memang orang yang paling menyebalkan sedunia ini. Dia pasti akan menyuruhku pergi, memangnya apa urusan dia!

Capek. Dari tadi aku berjalan terus, aku ingin istirahat. Istirahat di mana ya? Hmm, mungkin di trotoar itu saja. Terlihat ada laki-laki duduk di tempat itu juga. Aku pun ke sana duduk di sebelahnya. Tapi, lho kok dia malah pergi? Aneh, ditemenin duduk malah pergi. Ya sudahlah gak papa.

Enaknya duduk –duduk sambil melihat-lihat sekeliling. Tapi, sepertinya ada yang memandangiku. Laki-laki di seberang sana memandangiku sambil tersenyum. Kenapa dia tersenyum-tersenyum padaku? Ah, pasti karena dia melihat tubuhku yang sexy dengan bahan yang minim. Bagaimana aku harus menghadapinya? Bagaimana kalau aku ikut tersenyum pula membalasnya? Aku pun tersenyum, dan tanpa sadar jari telunjuk tanganku pun ikut memanggilnya. Tapi, kenapa setelah itu dia tertawa melihat reaksiku? Teman di sampingnya pun begitu. Apa mungkin sikapku salah ya? Yah.., dia malah pergi deh, padahal untuk selevel aku wajahnya cukup lumayan.

Anak kecil jaraknya hanya lima meter dariku, lucu sekali. Rambutnya keriting diikat dua, pipinya yang cempluk bergoyang sambil menikmati es krimnya. Matanya yang belo yang dihiasi air mata memandangku takjub. Aku pun tersenyum-senyum ke arahnya menghiburnya, kelihatannya anak kecil itu habis menangis. Mungkin karena tidak dibelikan mainan? Mungkin saja. Aku tetap tersenyum-senyum dengan kedua tanganku pun ikut mengiburnya, namun tetap aku berada di trotoar masih sambil duduk.

Mata anak kecil itu pun beralih pada orang yang menggandengnya, kepalanya mendongak ke atas. Sepertinya wanita di sampingnya yang kuduga ibunya itu, sedang mengatakan sesuatu padanya, memarahinya. Wajah anak kecil itu pun berubah takut padaku. Apa sih yang dibilang ibu itu sampai mempengaruhi anak kecil itu? Aku kesal pada ibu itu, hendak menggertaknya, aku menatap mukanya setengah berdiri.

Tapi, tunggu. Wajah itu seperti orang yang aku kenal. Wajahnya seperti ibuku. Jangan-jangan memang itu ibu. Aku pun berdiri dengan tegap mengambil langkah cepat ke arahnya hendak menyapanya. Heran ibu itu malah segera menggendong anaknya dan lari dari arahku. Tunggu! Memang benar ibu kan. Ibu kenapa lari? Kita kan sudah lama tidak bertemu. Aku pun mengejarnya. Es krim anak kecil itu jatuh, aku memungutnya untuk nanti diberikan lagi pada anak kecil itu.

Begitu aku melihat ke depan ibu sudah tidak ada. Mataku mencari-cari sosoknya. Ketemu! Dia sudah ada di seberang jalan itu, baru saja menyebrang namun masih berlari. Spontan aku langsung ikut menyebrang pula, tapi di tengah jalan sepertinya ada benda yang berjalan ke arahku dengan cepat, mungkin dia mau mebantuku mengejar ibu. Aku berhenti, tanganku melambai ke arah benda itu. Dalam benda itu sepertinya ada orangnya, jangan-jangan bapak. Ayo bapak cepat ke sini, kita panggil ibu. Tapi, rasanya ada yang aneh.

“Bruk!!!”

Supir truk tersebut dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari perihal tabrakan yang terjadi siang yang lalu di jalan depan supermarket yang besar itu. Hal ini disebabkan karena perempuan yang ditabraknya berhenti di depan truknya yang sedang melaju kencang, bukannya menghindar seolah-olah perempuan tersebut sengaja ingin menghabiskan nyawanya dengan cara tersebut. Terlebih lagi, perempuan yang hampir telanjang itu adalah orang yang tidak waras atau bisa disebut juga orang gila.

Saksi seorang ibu pun mengatakan bahwa sebelumnya wanita itu sempat mengejar-ngejar dirinya berserta anaknya. Karena ketakutan dan takut diganggu ibu tersebut tentu berlari menyelamatkan diri, sampai akhirnya perempuan gila itu tertabrak truk.

Diketahui dari beberapa orang, penyebab perempuan itu gila adalah karena kematian kedua orang tuanya yang tragis enam bulan yang lalu.

January 13, 2007

BODOHNYA AKU

Filed under: cerpen, atau apapun itu — faradums @ 11:38 pm

Lelah. Dalam pekan ini aku akan melakukan sesuatu yang makin susah untuk aku bayangkan, dan masih terasa seperti mimpi. Namun, kalau pun mimpi aku lebih memilih untuk cepat terbangun. Tidak pernah aku mengira-ngira sebelumnya bahwa waktu ini akan begitu cepat datang di hadapanku. Pernikahan. Inilah hal yang membuatku pusing tujuh keliling.

Susah payah sudah selama empat bulan ini aku menyiapkan segala sesuatunya tentunya dengan bantuan banyak pihak, dari orang tua, calon mertua, saudara-saudara, teman-teman dan tentunya kekasihku yang akan menjadi suamiku dalam saat segera ini. Persiapan tempat, undangan, catering, gaun pengantin, serta berbasa-basi dengan calon mertua, dan segala macam tetek bengek lainnya membuat tubuhku sengsara sampai-sampai ingin rasanya berbaring merebahkan tubuhku pada kasur yang empuk dalam waktu yang begitu lama. Belum lagi berbagai macam perawatan tubuh terjadwal akhir-akhir ini aku lakoni yang katanya akan sangat membantu dalam suksesnya malam pertama yang ditunggu-tunggu, dan akan membuat suami terkesan.

Namaku Tiara, aku baru saja lulus dari hampir lima tahun aku berkuliah. Belum sempat aku mencicipi dunia kerja aku sudah ditodongi desakan menikah oleh kekasihku Bimo yang umurnya tujuh tahun di atasku dan sudah mapan dalam keuangannya. Aku pun mengiyakan niat baiknya mengingat umurnya yang sudah menginjak kepala tiga, serta keadaan orang tuanya, dan terlebih lagi sudah cukup lama aku menjalin hubungan asmara dengannya. Walaupun begitu, aku merasa seakan ada yang bakal menghilang dariku setelah aku menikah, yaitu kebebasan. Dan pula satu yang akan menuntutku untuk aku jalani kelak adalah tanggung jawab sebagai seorang istri.

Hari ini adalah hari di mana aku bisa melepas lelahku untuk satu hari ini saja, tanpa berhubungan dengan segala hal yang menyangkut pesta pernikahan maupun Bimo. Sore ini, aku sengaja membiarkan diriku sendirian meletakan tubuhku di atas pasir pinggir pantai sambil melihat pemandangan sekeliling yang keindahannya sudah terjamah begitu pula dengan ombaknya yang bergulung tanpa lelah tidak seperti diriku. Aku mendongakan kepalaku ke atas langit. Sungguh menyenangkan bersantai sesaat.

Beberapa saat kemudian aku berdiri ingin mencari sensasi yang lain dari pantai tersebut. Berjalan aku sambil melihat pasir-pasir di mana aku berpijak, sambil mencari kerang yang menarik untuk sekedar diambil dan dilihat. Langkahku terhenti melihat kertas yang sepertinya lebih menarik untuk dilihat, karena terlihat seperti voucher. Bukankah menyenangkan menghabiskan waktu kosong ini apalagi dengan sesuatu yang gratis? Sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk lima hari ke depan. Jaraknya hanya tiga meter di depanku. Segera saja aku mengambil langkah menuju ke arahnya. Begitu jaraknya hanya beberapa cm dari kakiku, aku segera mebungkukkan badanku untuk mengambil kertas berisikan voucher ice cream itu. Tapi, owchh! Kepalaku rasanya terbentur dengan kepala lainnya. Lumayan keras. Ah, rupanya kepalaku berbenturan dengan kepala pemuda yang kiranya umurnya hampir sama denganku yang sepertinya berpikiran sama tentang kertas voucher tersebut.

”Maaf… Milik kamu ya?” sahutku sambil meringis.

Pemuda tersebut terdiam sebentar lalu menjawab,”ehm, bukan…” Dia pun ikutan meringis sambil memandangku. Kemudian dia berkata lagi setelah berpikir sejenak dan mengambil kerstas voucher tersebut, ”Bagaimana kalau kita gunakan bersama?”

Sudah hampir dua tahun pesta pernikahan berlalu dan aku menjalani hidup damaiku  berdua bersama Bimo dengan rumah yang cukup luas, rumah yang diberikan oleh orang tua Bimo. Aku bahagia hidup bersamanya, bukan sekedar karena kecukupan, namun karena perasaan cinta Bimo yang tidak surut berjalannya waktu, atau lebih tepatnya mungkin belum. Bukan hanya cinta dari Bimo yang membuatku senang, namun kebebasan yang dia berikan padaku. Dia memperbolehkan aku melakukan hal yang aku suka. Aku dibebaskan untuk bekerja, shopping, jalan-jalan atau mungkin sekedar bertemu teman-teman pada saat dia sedang bekerja. Hanya saja dia mengharuskan aku sudah berada di rumah dengan masakan yang disediakan olehku untuknya saat dia pulang dari kerjanya. Bukan hal yang berat bagiku.

Namun sampai saat ini pun setelah aku menikah, belum juga aku sempat merasakan bagaimana mengasyikannya dunia kerja yang seharusnya aku rasakan bila tak ingin pendidikan yang telah aku lakukan selama ini terasa sia-sia. Bukannya aku selalu gagal dalam test interview pekerjaan atau karena tidak ada yang lowongan pekerjaan yang cocok, namun belum pernah sekali pun aku memasukan surat lamaran kerja ke satu perusahaan pun yang menurutku menarik, Bukannya aku ingin menjadi wirausaha pula, tapi aku memiliki banyak pertimbangan yang membuatku berpikir ulang untuk bekerja. Pertimbangan utamanya adalah pekerjaan akan membuatku susah membagi waktu. Karena setiap jam sepuluh pagi ketika suamiku berada dalam kantornya, aku mempunyai kegiatan rutin yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja sampai jam empat sore.

Aku harus bertemu Gustav. Ya, benar. Gustav adalah nama pemuda di pantai waktu itu, yang ketika itu memberi ide menggunakan voucher bersama denganku. Tidak disangka aku menjadi tidak bisa melepaskan diriku dari pelukannya semenjak pertemuan itu. Aku sungguh membutuhkan dekapan tangannya yang kuat itu setiap hari. Secara fisik aku menyukai semua bagian wajah dan tubuhnya, tidak ada yang tidak aku suka. Bahkan tahi lalatnya pun melekat pada tempat yang tepat. Bukan hanya ketampanan dan ketertarikanku pada badannya yang tegap, namun dia memiliki kepribadian yang tegas, tidak basa-basi, dan simpatik yang membuatku semakin tidak bisa melepaskannya. Keliarannya dalam hal bercinta pun selalu membuat aku semakin bergairah.

Gustav tahu kalo aku sudah bersuami dan dia sadar benar dengan posisi dirinya saat ini. Dia membiarkanku melarangnya untuk datang ke rumahku, tentu aku tak mau tetangga-tetanggaku mempergunjingkan hal yang tak pantas tentang diriku, apalagi kalau sampai suamiku tahu, bisa ditalak pula aku. Begitu pula dengan diriku yang tidak berhak melarang Gustav untuk berhubungan dengan wanita lain.

Siang ini seperti biasanya aku datang ke rumah Gustav, memasuki rumahnya dengan kunci serep yang sengaja dia buatkan untukku seorang diri. Aku melepaskan sepatu hak tinggiku kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia masih tertidur bertelanjang dada. Sungguh tetap terlihat sempurna dirinya dengan wajahnya yang sedang terlelap. Namun begitu, dadanya yang bidang yang dilengkapi dengan bulu pendek halus di atasnya membuat aku tak sanggup bila harus membiarkannya tidur, aku pun melepas jaketku dan naik ke atas tempat tidurnya, sambil tiduran aku memeluknya dari belakang dan meraba-raba bagian tubuhnya yang sensitiv. Matanya terbuka perlahan. Dia terbangun dan menyadari keberadaanku. Dia pun tersenyum padaku dan mengecup bibirku lembut, kemudian dia menutupi matanya dengan kedua tangannya sejenak lalu membukakannya kembali lalu memandangku.

”Sudah lama?” tanyanya padaku.

”Baru saja..”

”Ohh…,”sahutnya.”Aku mandi dulu sebentar,”katanya sambil beranjak dari tempat tidur.

”Tunggu.. Sebenernya hari ini ada yang mesti aku kasih tau, sayang..” pintaku mengehentikan langkah Gustav. Gustav kembali ke tempat tidur dan duduk di sampingku sambil memalingkan wajahnya kepadaku  yang dari isyarat matanya dia meminta penjelasanku lebih lanjut. Aku pun segera memberi tahu, ”aku hamil. Kita tidak bisa bermesraan seperti biasanya lagi, kandunganku masih rawan..”

”Anak siapa? Anak Bimo atau anakku?” katanya setelah dia diam beberapa lama sambil matanya terus menatapku.

Aku terdiam sejenak lalu menjawab, ”Anak Bimo.”

” Aku mandi sebentar. Nanti kita berbicara lagi setelah aku selesai mandi.” katanya sambil menghela nafas.

Aku sendiri sebenarnya tidak tahu ini anak siapa, entah Bimo atau Gustav. Naluriku lebih mengatakan bahwa ini anak Gustav, tapi tidak mungkin aku mengatakan ini anak Gustav karena kalau mendengarnya ia pasti memintaku menceraikan Bimo dan menikah dengannya. Aku tidak mau, Bimo adalah orang yang tidak bisa aku lukai hatinya karena kebaikan dan kesetiannya, walaupun sebenarnya aku sudah menghancurkannya secara tidak sengaja dengan perbuatanku dengan Gustav. Sebaliknya, dengan aku mengatakan bahwa ini anak Bimo, hubunganku dengan Gustav berakhir sudah.

Inilah kesepakatan kami berdua sejak awal. Bahwa ketika aku sudah mengandung anak Bimo, aku akan menjadi istri yang setia dan menjadi calon ibu yang baik, tentu saja tidak ada waktu lagi untuk Gustav karena aku akan mencurahkan seluruh perhatianku pada suamiku dan calon anakku ini yang sedang berada dalam kandungan. Gustav pun tidak keberatan karena dia sendiri tidak ingin rumah tangga dan anakku kelak hancur karenanya. Dan tibalah ini hari perpisahanku dengan Gustav yang memang sudah saatnya. Dan aku pun sudah bersiap menjadi istri dan calon ibu yang setia dan perhatian.

Kopi aku sediakan di meja tempat Bimo biasa mengambil cangkirnya dan menyeruputnya. Dia kini berdiri di samping meja sambil tangannya melepaskan dasinya yang berwana hitam lurik, lalu dilemparkannya dasinya di kursi dan jarinya yang berhiaskan cincin meraih telinga cangkir yang aku buatkan. Meminum separuh isinya dan meletakannya, kemudian menghampiriku dan memeluk.

”Mas, aku punya kejutan. Kamu harus mendengarkannya hati-hati, ” bisikku di telinganya dan membebaskan diriku dari pelukannya untuk sementara.

”Kabar gembira ? ” tebaknya. Aku mengangguk, dan dia pun duduk di kursi sebelah meja makan. Aku mengikutinya dan duduk di atas pangkuannya dan menarik tangannya untuk melingkari perutku.

Aku terdiam untuk beberapa saat dengan badanku berpaling ke arahnya lalu memandang kedua matanya sambil tersenyum,lalu berkata pelan, ”aku hamil.” Masih, tersenyum aku menunggu reaksi gembiranya. Terlihat dia masih mencoba mencerna ucapanku kembali.

”Hamil?” tanyanya masih tidak percaya akan apa yang dia dengar sebelumnya. Aku mengangguk  tetap dengan bibir yang menaik ke atas.

Satu menit lebih berlalu tidak ada tanda gembira di wajahnya, tangannya yang menggitari perutku sudah seperti tidak ada hasrat lagi dan sudah lemas. Aku pun berdiri dari pangkuannya, kemudian aku menarik kursi ke arah di depannya dan duduk. Kini kedua lengannya diletakkan pada meja dan kepalanya disandarkan di kedua telapak tangannya dan terlihat matanya tertutup.

Aku pun bingung. ” Kamu tidak senang? Apa aku hamil pada waktu yang salah? Kenapa kamu bukannya terlihat gembira?” tanyaku bertubi-tubi namun tetap sabar. Dengan tetap seperti posisinya sebelumnya dia hanya menggeleng. Aku bertambah bingung dan berpikir sesaat mengenai kemungkinan kemungkinan lainnya. Tidak aku temukan jawaban lalu aku bertanya lagi, ”Lalu kenapa kamu begitu?”

Sesaat kemudian dia menengadahkan kepalanya ke atas , melepaskan tangannya dari meja, dan memutar tubuhnya menghadap diriku. Wajah kecewa yang terlihat di rona mukanya membuatku semakin bertanya-tanya dalam hati. Lalu dia berkata, ”Apakah kamu tidak ingat sama sekali?”

”Ingat apa?” tanyaku langsung dan kemudian aku mencoba-coba mengingat. Entah kenapa tiba-tiba aku harus merasa melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku karena ceroboh mengungkapakan perihal kehamilanku.

”Bukankah aku sudah pernah bilang padamu jauh sebelum ini bahwa aku…”dia diam sejenak untuk menarik napas dan mengeluarkannya kembali lalu meneruskan kata-katanya, ”aku selamanya tidak akan bisa membuahi rahimmu. Bukankah kamu sudah tahu itu. Mengapa kamu melupakannya? ” wajahnya menunduk dalam, kemudian menatap tidak percaya padaku memperlihatkan jelas kekecewaannya padaku.

Aku kaget dan rasanya baru sadar diriku telah melupakan hal yang sangat penting dan melakukan kebodohan yang tidak hanya telah menoreh luka pada suamiku namun juga yang kelak akan menghancurkan masa depanku dan jabang bayiku ini. Bodohnya aku!

MENUNGGU

Filed under: Uncategorized — faradums @ 9:30 am

Aku terbangun dari tidurku, dari alam bawah sadarku yang telah memberi ketenangan jiwa padaku malam ini. Masih tetap berbaring, leherku menengok, sedangkan tanganku merapa-raba, mencari sebuah wujud, dan mendapatkannya. Aku meraih ponselku kemudian melihat jam yang tertera di layarnya. Jam lima pagi. Aku meraba perutku bagian bawah. Ah, sudah tidak apa-apa, sudah tidak terasa perih seperti tiga jam yang lalu ketika aku terbangun oleh rasa sakitnya yang membuatku merintih. Aku kembali tersadar oleh waktu. Aku harus segera bersiap, pikirku. Segera duduk dan berdiri, dengan langkah yang pasti aku ke kamar mandi setelah mendapatkan handuk di tanganku.

Jam enam pagi. Dingin masih. Setelah membayar karcis masuk aku memarkirkan motorku di area stasiun, di mana aku melihat banyak motor berpakir di situ dan terlihat lebih dekat. Aku berhenti dan melepaskan helmku pada spion motor dan segera turun dari motor sambil  membenarkan rambut, kemudian mulai berjalan. Namun, tiba-tiba sesosok pria tidak dikenal menyapaku, “Neng, neng! Jangan parkir di situ, itu khusus buat ojek, Di situ,tuh neng kalo mau parkir.”

Aku memeriksa kembali tempat di mana aku parkir tadi. Astaga, bodohnya aku tidak membaca plang besar yang tertuliskan “PARKIR OJEK”, lalu aku melengok ke arah yang ditunjukan oleh pria yang mungkin salah satu ojek yang motornya berpakir di situ. “Oh, maaf…,” ujarku ke orang yang tadi. Kembali aku menaiki motor dan memarkir pada tempat  yang benar.

Setelah mendapatkan karcis parkir aku berjalan dengan tas yang aku kempit dengan lenganku. Aku sudah tidak sabaran mencapai ruang tunggu stasiun dengan kedua kakiku ini.Ya, karena aku sudah menunggu hari dan saat ini. Aku menunggu sampai dibuat tidak bisa tidur, gelisah, dan kesal  karenanya. Kesal karena waktu dan jarak. Menunggu untuk bertemu laki-laki itu setelah lama tidak bertemu, laki-laki yang akan mengisi satu atau dua hariku ini, walau sebenarnya dia sudah tanpa sadar  menulis namanya dalam agenda harianku beberapa waktu ini. Tapi aku senang menunggunya, karena aku dapat bersiap sebelum ia datang.

Sudah sangat dekat langkahku. Ya, inilah ruang tunggu. Aku mencari sosoknya yang tak asing lagi  di antara puluhan orang yang berada di ruang tunggu. Ketemu! Ah, kami saling bertemu muka. Menggunakan kaos berwarna hijau dengan tas di punggungnya, dia menghiasi wajahnya dengan senyum begitu melihatku. Aku membalasnya. Aku pun berjalan ke arahnya yang hanya beberapa meter dari tempatku berdiri.

Bersamanya dari pagi hingga malam. Rasa rinduku seakan terobati karena pertemuan dan kebersamaan ini. Namun ketika malam mengharuskan aku dannya berpisah, rasa rindu pun kembali memuncak jauh melebihi saat sebelumnya, belum puas aku bersamanya. Rona wajahku pun berubah dan aku menjadi diam karena kebencianku oleh waktu. Dia pikir aku sedang bermasalah, dia mengkhawatirkanku. Memang benar aku bermasalah, namun aku bermasalah pada diriku sendiri yang masih menginginkannya berada di dekatku.

Masih berputar dari ingatanku bagaimana rasanya menunggu. Kini, aku pun sedang menunggu. Namun, yang kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bukan sekedar menunggu kehadirannya, tapi aku menunggu kepastian darinya, laki-laki yang telah mengisi hari-harikuku beberapa lama yang lalu. Menunggu sampai saat yang sudah aku tentukan sendiri berakhir. Rasanya pun tidak jauh berbeda, resah dan cemas tetap diriku lalu gundah, menyenangkan pula karena waktu yang sudah akan diakhiri telah dekat, namun bukan kesal yang aku rasa, aku lebih sabar. Namun aku tidak banyak berharap pada kepastian yang akan dia bisikkan pada telingaku yang sudah mendengar cukup banyak kejadian pahit dalam dunia. Kenyataan pahit yang menungguku pun bukan masalah yang besar yang perlu aku tangiskan, aku sudah bersiap untuk membiarkannya lewat begitu saja tanpa penyesalan mau pun air mata yang tidak penting adanya. Pilihannnya itu akan membuatku entah akan berhenti sejenak, membiarkan kepalaku bersandar di bahunya dalam waktu yang tak tentu seberapa lama atau akan membuatku terus berjalan mencari pemberhentianku.

                           

Seminggu sudah. Hari ini adalah hari terakhir yang sudah aku tentukan sendiri untuk mengetahui apakah aku akan membuangnya jauh-jauh atau tetap menjaganya. Aku sudah melewati hariku ini dengan bangun tidur, mandi, sarapan, menonton TV kemudian makan siang dan mandi lagi, dan melakukan banyak hal lain yang entah berguna entah tidak hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan belum jua aku terima jawabannya. Ah, aku sudah tau dengan pasti apa kata-kata yang akan dia ucapkan bila aku memaksa menelepon. Tidak apa, kadang memang kenyataan tidak selalu menyenangkan seperti yang diinginkan. Tapi, aku tetap menelepon, bukan karena masih penasaran, namun karena ini adalah resiko dan kewajiban yang harus aku ambil bila aku menginginkan suatu kepastian. Dengan duduk bersila di atas tempat tidur, aku memencet sejumlah nomor dalam tombol-tombol yang terdapat dalam telepon rumah yang tanpa kabel, dan bukan keinginanku pula bila degup jantung terdengar begitu keras melebihi suara ac yang sudah rusak dalam kamar. Sedikit takut memang. Aku menatap kaca di samping tempat tidur sambil melihat wajahku yang gugup. Telepon sudah mulai tersambung, namun belum terdengar suaranya yang mengangkat telepon. Tenang saja, aku akan mengulanginya beberapa kali bila dia belum mengangkatnya juga, pikirku sedikit bimbang.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.