Aku rindu. Berlebihan dan membara. Dalam hanya satu tatap menghancurkan, pembawa derita dan gelisah di hati. Satu senyum, satu sentuhan pada telapak kananku. Satu ingatan yang mampu membinasakan hari-hariku yang sebelumnya adalah sedih tak kunjung reda. Bahkan membuatku tak berdaya dan setengah mati penasaran menanti dan menunggu. Entah apakah ini lebih baik ataukah tidak kalah buruk.
Beberapa menit tak sampai lima mampu membuat berbulan hati tak tentu, emosi meluap tak tentu arah. Tak mampu tidur dengan tenang bilakah bisiknya tak kunjung datang menghantar redupnya malam, matinya hari yang telah kusinggahi. Tak habis waktu tanpa penantian, penasaran memuncak mencapai tebingnya.
Berbulan sudah, sirna masanya merenggut jiwaku. Habis pula ingatanku pada waktu yang begitu cepat, lima menit yang tadinya mampu mengeringkan lukaku dalam sekejap Mengikis perlahan-lahan, menghilang bagai dimangsa bumi. Kembali pada masa yang lewat, lagi pada sakitnya jiwa, berulang pada harapan yang sia-sia. Menatapnya setelah sekian lama kutinggalkan pada harapan yang lebih berarti kukira. Mengenangnya setelah berbulan hanya mengingat lima menit tak sampai yang rupanya kini sudah tenggelam tak terselamatkan.
Tak perlu berlama bertahan karena aku semakin muak, lebih membahagiakan rupanya bila kulepas. Tak berguna, tak menguntungkan sedikit pun. Membuang waktu, habis tenaga untuk berpikir. Seperti halnya sekolah, tak perlu berlama-lama bila sampai dua belas tahun tetap tak mengerti arti kata anarkis, kolonial, dan sebagainya. Tak butuh menghabiskan waktu menuntut ilmu, bila terus menghafal, tanpa dipahami, tanpa bisa menggunakan logika dalam berfikir.
Lima menit tak ada artinya lagi. Begitu pula bertahun. Bagiku bukan lagi waktu. Namun peluang.
Tak mau lagi satu, namun kini menjadi tiga atau lebih. Kalau perlu sepuluh sekalian. Atau lebih baik sama sekali tidak bila hanya satu.
September 29, 2007
TAK MAU SATU
Advertisement
Leave a Comment »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.




